Empat belas atau lima belas tahun yang lalu saya memulai belajar memainkan instrumen musik yang bernama Gitar. Masih menempel di ingatan saya chord pertama yang saya kuasai adalah C dan almarhum Ayah saya yang mengajarkannya, guru musik pertama saya.

Saat itu saya sangat kesulitan untuk mempelajari chord guitar, mengingat umur saya baru sembilan tahun dan jari-jari mungil saya tidak cukup untuk menaklukkan besarnya fretboard gitar hitam Yamaha SG-200 milik almarhum Ayah saya. Alhasil, saya hanya bisa beberapa chord saja.

Saya merasa bosan hanya mempelajari chord, saya ingin memainkan sebuah lagu! Akhirnya dengan beberapa chord yang saya kuasai saat itu saya mencari lagu yang tepat untuk saya pelajari lebih lanjut. Thank God, saat itu di era 90-an banyak sekali lagu yang bagus dan cukup mudah untuk dipelajari karena lagu-lagu di era 90-an sangat sederhana, mungkin karena mereka (baca: musisi era 90-an) kebanyakan hanya mengeksplor empat chord saja. Setelah masa pencarian saya lakukan, akhirnya saya memutuskan untuk mempelajari lagu berjudul Creep dari Radiohead.

Kesulitan untuk mempelajari lagu milik Radiohead itu tidak seketika berhenti, saya masih sangat kesulitan untuk mempelajari lagu itu karena saya baru menyadari bahwa lagu itu menggunakan power chord, dan saya belum mempelajarinya. Karena saya sudah terlanjur suka lagu itu, maka saya memaksakan untuk mempelajari power chord (setidaknya hanya chord untuk lagu itu saja) dan itu rasanya sangat pegal, otot tangan saya tegang dan sakit, kulit di ujung jari-jari tangan kiri saya mulai mengelupas, tersiksa!! Tetapi akhirnya saya dapat menguasai lagu Creep dari Radiohead, lagu pertama yang saya kuasai.

Demikian sepenggal kisah antara Saya dan Radiohead, cukup senang dapat mengingatnya. Ingin rasanya cover lagu Radiohead.

Terima Kasih.

Bogor, 14 Mei 2012

Red namanya, ukulele kesayangan saya sekaligus teman karib saya, bentuknya kecil, imut-imut, dan selalu bisa ngebuat saya senyum. Ah! Sayang sekali semenjak dia pindah “warganegara” saya tidak pernah melihat wujudnya lagi, apalagi ngedenger suaranya. Sedikit kecewa, mungkin.

Awal bulan desember 2011 si Red sudah resmi jadi “warganegara” Taiwan, itu karena saya memberikan Red kpd seorang wanita ber-paspor Taiwan yang kebetulan pada awal bulan desember lalu berkunjung ke Bandung selama empat hari.

Enam bulan sudah saya tidak bermain ukulele, enam bulan sudah juga saya tidak melihat dan mendengar suara si Red, kangen?pasti lah! (tetapi saya tidak pernah menyesal melepas Red)

Semoga saja nanti saya bisa ngeliat dan ngedenger suara si Red lagi, dan tidak mendapatkan alesan yang sedikit membuat saya kecewa lagi ketika saya meminta wanita itu untuk sedikit berfoto ria dan bervideo ria bersama si Red.

Oh, selama wanita itu berkunjung ke Bandung, kami sempat merekam dua video, bernyanyi bersama, walaupun suara saya tidak sebaik suara dia. Dokumentasi video tersebut bisa diliat di akun youtube dan tumblr milik saya.

Demikian sepenggal kisah saya, ukulele, dan wanita ber-paspor Taiwan.

Hi Folks !!

Sedikit cerita tentang Saya dan Laura Marling,

Dua tahun silam saya baru menyadari bahwa suara latar yang menghiasi lagu-lagu dari Noah and the Whale, sebuah band indie-folk asal London dalam album perdana mereka itu adalah suara milik Laura Beatrice Marling alias Laura Marling,  seorang wanita muda dengan talenta super-duper dan tentu saja berparas cantik.

Umurnya saat ini baru 21 tahun, tapi udah punya 3 album dan memenangkan beberapa penghargaan, seperti di BRIT Award 2011, dia menang untuk kategori best female (ngalahin Cheryl Cole lhoo, cool). Kenapa bisa begitu? ya karena itu tadi, dia punya talenta super-duper. Dia tulis semua lagunya (dan semuanya bagus), suaranya bagus, dan yang pasti lagunya juga enak.

Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri cover lagunya Laura Marling,  “Alas, I Cannot Swim” salah satu track di album pertamannya. Menariknya, kamu ga akan bisa ngeliat secara “kasat mata” lagu ini di dalam track list albumnya, karena lagu dengan judul “Alas, I Cannot Swim” ini merupakan hidden track di album itu, dia sengaja nyelipin lagu ini di dalam salah satu track lainnya. Oh Laura, saya suka sekali lagu itu.

Eemmm, jadi menurut saya Laura Marling adalah  salah satu singer/songwriter yang oke punya dan karya-karyanya sangat layak untuk dinikmaati oleh kalian para pecinta musik folk.

Ok, cukup sekian tentang Saya dan Laura Marling-nya, nantikan edisi cerita saya bersama musisi-musisi lainnya yah, haha ! Thanks!!

Ukulele

Ukulele, kalau diibaratkan itu seperti anak kecil yang baru umur 2 – 3 tahun, lagi lucu-lucunya dan ngegemesin.

Empat senar !! Tidak banyak memang, tetapi sudah cukup untuk membuat otot-otot mulut saya tertarik dan melakukan manuver senyuman setiap memainkan dan mendengar suaranya yang cute itu.

Mungkin saya harus berterimakasih kepada imigran asal Portugis yang membawa alat musik ini ke daratan Hawaii sehingga alat musik ini semakin merangkak popularitasnya dan akhirnya sekitar dua tahun yang lalu saya berjabat tangan dengan sosok alat musik mungil ini.

Awal, saya mencoba mengenal ukulele lebih dekat dengan melatih chord dasar sebagai bahasa awal agar saya dapat berkomunikasi dengan alat musik ini, meskipun masih terbata-bata. Saya cetak chord dasar tersebut di atas kertas berukuran A4 berfungsi sebagai kamus dan terlihat seperti catalogue. Saya beradaptasi sehingga akhirnya saya dapat berkomunikasi dengan cukup baik dan saya lebih mengenal lebih baik. Selanjutnya, saya terus dan terus mencoba lebih mengenal hingga akhirnya saya upload cara saya berkomunikasi dengan ukulele saya ke youtube account saya.

Dan buat teman-teman sekalian yang tertarik dan ingin lebih mendekatkan diri dengan yang namanya Ukulele ini, teman-teman sekalian bisa bertanya dan mendapatkan informasi di forum Indonesian Ukulele Community. Silahkan mampir jangan takut, adminnya baik kok.

Demikian sepenggal kisah awal saya berjabat tangan dengan sosok Ukulele. Thanks !!

WOW !! Satu kata yang terucap (selain beberapa tetes air mata yang hapir tumpah) pada sore kemarin selepas saya menonton film ini. “The Music Never Stopped” , sebuah film based on the true story yang menggambarkan sekaligus membuktikan bahwa musik bukanlah sekedar rumus nada + lirik (atau tanpa lirik).

Lebih dari itu, Gabriel Sawyer seorang hippie  penggemar berat Grateful Dead mengidap penyakit tumor otak sehingga memori yang telah dia miliki hilang, dia telihat seperti orang yang tersesat dan bingung, lebih tepatnya terlihat seperti orang linglung. Pengobatan secara medis tidak dapat membantu banyak hingga akhirnya ayahnya, Henry Sawyer membaca artikel dari seorang ahli music therapy . Ya, akhirnya ayahnya bertemu dengan Dianne Daley sang ahli music therapy itu dan therapy pun dimulai.

Ketika therapy dimulai, saya yang selama ini hanya sebagai penikmat dan sedikit bermain musik sadar bahwa musik lebih dari itu, musik adalah jejak, musik adalah semangat, musik adalah kekuatan. Ajaib, ketika Gabriel mendengar musik, dia seakan-akan menjadi normal, ingatannya kembali seolah membuka lembar demi lembar buku harian yang ditulisnya secara terstruktur sehingga kondisi ingatannya pun semakin baik.

Film ini dikemas baik oleh sutradara Jim Kohlberg dengan musik yang mempesona dari para musisi hebat seperti Bob Dylan, Grateful Dead, The Rolling Stones, The Beatles, Crosby Stills and Nash, dan Buffalo Springfield yang menambah kelayakan film ini untuk disaksikan.

Kalau Roeper and Ebert yang namanya sering saya lihat di sampul dvd bajakan memberikan 5 bintang, kenapa engga saya kasih 7 bintang untuk film ini.