Archives for the month of: August, 2011

Ukulele

Ukulele, kalau diibaratkan itu seperti anak kecil yang baru umur 2 – 3 tahun, lagi lucu-lucunya dan ngegemesin.

Empat senar !! Tidak banyak memang, tetapi sudah cukup untuk membuat otot-otot mulut saya tertarik dan melakukan manuver senyuman setiap memainkan dan mendengar suaranya yang cute itu.

Mungkin saya harus berterimakasih kepada imigran asal Portugis yang membawa alat musik ini ke daratan Hawaii sehingga alat musik ini semakin merangkak popularitasnya dan akhirnya sekitar dua tahun yang lalu saya berjabat tangan dengan sosok alat musik mungil ini.

Awal, saya mencoba mengenal ukulele lebih dekat dengan melatih chord dasar sebagai bahasa awal agar saya dapat berkomunikasi dengan alat musik ini, meskipun masih terbata-bata. Saya cetak chord dasar tersebut di atas kertas berukuran A4 berfungsi sebagai kamus dan terlihat seperti catalogue. Saya beradaptasi sehingga akhirnya saya dapat berkomunikasi dengan cukup baik dan saya lebih mengenal lebih baik. Selanjutnya, saya terus dan terus mencoba lebih mengenal hingga akhirnya saya upload cara saya berkomunikasi dengan ukulele saya ke youtube account saya.

Dan buat teman-teman sekalian yang tertarik dan ingin lebih mendekatkan diri dengan yang namanya Ukulele ini, teman-teman sekalian bisa bertanya dan mendapatkan informasi di forum Indonesian Ukulele Community. Silahkan mampir jangan takut, adminnya baik kok.

Demikian sepenggal kisah awal saya berjabat tangan dengan sosok Ukulele. Thanks !!

Advertisements

WOW !! Satu kata yang terucap (selain beberapa tetes air mata yang hapir tumpah) pada sore kemarin selepas saya menonton film ini. “The Music Never Stopped” , sebuah film based on the true story yang menggambarkan sekaligus membuktikan bahwa musik bukanlah sekedar rumus nada + lirik (atau tanpa lirik).

Lebih dari itu, Gabriel Sawyer seorang hippie  penggemar berat Grateful Dead mengidap penyakit tumor otak sehingga memori yang telah dia miliki hilang, dia telihat seperti orang yang tersesat dan bingung, lebih tepatnya terlihat seperti orang linglung. Pengobatan secara medis tidak dapat membantu banyak hingga akhirnya ayahnya, Henry Sawyer membaca artikel dari seorang ahli music therapy . Ya, akhirnya ayahnya bertemu dengan Dianne Daley sang ahli music therapy itu dan therapy pun dimulai.

Ketika therapy dimulai, saya yang selama ini hanya sebagai penikmat dan sedikit bermain musik sadar bahwa musik lebih dari itu, musik adalah jejak, musik adalah semangat, musik adalah kekuatan. Ajaib, ketika Gabriel mendengar musik, dia seakan-akan menjadi normal, ingatannya kembali seolah membuka lembar demi lembar buku harian yang ditulisnya secara terstruktur sehingga kondisi ingatannya pun semakin baik.

Film ini dikemas baik oleh sutradara Jim Kohlberg dengan musik yang mempesona dari para musisi hebat seperti Bob Dylan, Grateful Dead, The Rolling Stones, The Beatles, Crosby Stills and Nash, dan Buffalo Springfield yang menambah kelayakan film ini untuk disaksikan.

Kalau Roeper and Ebert yang namanya sering saya lihat di sampul dvd bajakan memberikan 5 bintang, kenapa engga saya kasih 7 bintang untuk film ini.